Mencari Pertautan “Bugis-Makassar: Sultan Hasanuddin – Arung Palakka

Halo semuanya…

Bagaimana mi baiknya kita rangkum (atau ada yang mau menuliskannya..***semua jari menunjuk Dandy kah?**) diskusi ini? Saya bukan ahlinya. Tapi selalu ada keinginan bahwa di Panyingkul! hadir juga topik pembelajaran,  yang mengajak orang melampaui perdebatan sempit pahlawan vs pemberontak, yang membuka mata kesadaran kita bahwa “sejarah rakyat biasa” di masa-masa pemberontakan itu bagaimana pula halnya? tentang tukang perahu yang ditempeleng di Danau Tempe sementara para elit berkuasa sudah kawin mawin lagi….. Inilah salah satu hakekat kerja kolektif di sini… menawarkan pembelajaran dengan ramah, tidak gamussu, tidak koro-koroang seperti orang2 yang saling adu di tulisan The J…

Ayolah… (**Semoga tergetar dikau adanya untuk memberi asupan bacaan yang sehat dan mencerdaskan bagi siapa saja yang menyempatkan diri ke Panyingkul! dan insya Allah menjadi ibadah..**)

Selamat berpuasa semuanya. Mohon maaf lahir batin.

Sudirman HN

Thanks Dandi, yang sudah mengantar kita untuk “melampaui” perdebatan dalam bingkai sempit “pahlawan vs penkhianat” itu…

Membaca beberapa kali Warisan Arung Palakka (edisi Indonesia maupun Inggrisnya), tampaknya hampir semua tokoh kunci/elit dari semua pihak dalam peristiwa berdarah-darah itu “brengsek”…Selain Arung Palakka, lihat pula “brengsek”-nya Karaeng Karunrung  yang pada masa sebelum dan masa awal-awal perang adalah pihak paling ekstrim penganjur perang dan anti Arung Palakka juga VOC (sosok ini bahkan kelihatan lebih berkuasa ketimbang Sultan Hasanuddin), namun pada saat-saat terakhir ketika Arung Palakka sudah menjadi tokoh lokal terkuat, ia dengan mesra memeluknya dan meninggalkan Karaeng Bisei Sultan Muhammad Ali (yang adalah putra Sultan Hasanuddin, sosok yang tampaknya tak segarang posternya yang berkumis lebat itu:):)….

La Patau oleh beberapa sumber dituliskan menikah dengan I Mariama Karaeng Pattukangan dari Gowa, ia juga  menikah dengan putri Datu Soppeng dan Datu Luwu, salah satu keturunannya adalah Batari Toja Daeng Talaga yang kemudian menjadi Arumpone sekaligus Datu Soppeng dan Datu Luwu (posisi yang ia peroleh akibat kawin-mawin para elit itu, kayaknya tokoh satu ini adalah tokoh perempuan paling berkuasa dalam sejarah Sulsel….:)…Kayaknya dari jalur La Patau inilah (yang kok beruntung sekali kawin dengan hampir semua putri tokoh kunci kerajaan2 Sulsel:)): jalur genealogis elit-elit Sulsel sejak abad 18….Babak berdarah-darah selanjutnya adalah perang cukup panjang yang melibatkan dua elit, Batari Toja vs La Maddukelleng…..kayaknya kita bisa bikin sinetron perang berdarah2 dan penderitaan rakyat jelata yang amat panjang di Sulsel ini…..

Menariknya sentimen lama ini kayaknya turut dieksploitasi dalam hingar-bingar pilkada Sulsel kini….Lihat misalnya Amin Syam yang kemarin mengumumkan bahwa ia turunan langsung Batari Toja….Lihat juga Syahrul yang ziarah ke makamSultan Hasanuddin dan Arung Palakka beberapa waktu lalu…Ha.ha..ha…sejarah berikut dendam usang ini masih juga merepotkan elit-elit kontemporer yang kini berlaga….

Jadi sosodara, mari bebaskan diri kita dari kerangka sempit pahlawan vs pengkhianat ini berikut dendam karatannya (yang hampir sudah tak memiliki kaitan dengan mimpi-mimpi kita untuk melihat masyarakat biasa di Sulsel yang lebih berkeadilan dan berkesejahteraan)….Tapi tadi saya sempat melongok debat di bawah tulisan Jimpe itu, kelihatannya para pendukung fanatik dan pemelihara dendam dari kedua belah pihak  masih cukup banyak juga jumlahnya…Menghilangkan dendam tak berujung-pangkal ini kayaknya PR besar….

Nurhady Sirimorok

Sebelumnya saya mohon maaf bila catatan saya menyinggung perasaan. Saya hanya mencoba memaparkan fakta yang saya ketahui. 

Saya sepakat dengan tulisan Om Mus di bawah. Memang itulah kerjaannya para elit, mereka mengumumkan perang, mereka mempebudak, mereka menindas, lalu rakyat jelata yang terhinakan, jatuh miskin dan mendendam sampai berpuluh-puluh turunan. Dari buku Andaya juga ditulisan bahwa La Patau, penerus Arung Palakka, dinikahkan dengan beberapa putri raja kerajaan di Sulawesi Selatan (Soppeng, Luwu, Wajo–bahkan Gowa kalau tidak salah, saya masih harus cek). Ini berarti, setelah perang yang berdarah-darah dan meminta korban jiwa, kehormatan dan hilangnya penghidupan karena banyak yang mesti eksodus, para elit sudah kawin mawin. Sementara rakyat di Danau Tempe masih ditempeleng kalau tidak mau membawa orang Bone menyeberang danau, La Patau sudah dikelilingi dayang-dayangnya. Sementara orang Gowa masih memungitu sisa-sisa hasil jarahan pasukan Bone dan sekutunya, La Patau sudah menjalin hubungan dengan keluarga kerajaan.

Jaji, kalau bicara tentang kontekstualisasi pahlawan vs pemberontak. itu adalah debat bentukan pemerintah indonesia, yang relevansinya sedikit sekali untuk rakyat yang masih miskin dan mendendam. Masalah kita adalah rubuhnya tatanan masyarakat yang berterima di masyarakat kita, dan masyarakat yang masih menjaga dendamnya sampai beratus tahun lewat. Itulah masalah terbesar kita. Bukan, sekali lagi bukan, siapa pahlawan siapa pemberontak. Sebab Pahlawan nasional adalah arena unjuk diri ciptaan pemerintah Indonesia dengan kriteria yang kacau balau: berperang (militer), melawan belanda (walaupun sebelum indonesia terbentuk apapun motivnya), dan kalah (kalau menang merawat dendamnya susah).   

Kembali ke Arung Palakka, beliau ini, kalau lihat baik-baik buku Andaya, juga memesan untuk memenggal iparnya berukut ponakannya, karena dianggap bakal menggganggu kekuasaannya. orang ini juga yang memerintahkan memburu seorang bangsawan di daerah barru sampai lelah di hutan sebelum dipotong lidahnya dan dibunuh, karena berbicara melawannya. Orang ini yang memimpin pasukannya menyerang ke nyaris seluruh kerajaan di sulawesi selatan pasca jatuhnya Somba Opu. Semua untuk ‘mempersatukan’ seluruh kerajaan di kawasan ini untuk di bawah pijakan singgasananya. BUKAN UNTUK MEMBELA RAKYAT BONE.

Akibatnya, cerita rakyat di Toraja masih mencatat orang bone sebagai pembawa petaka, (dan menolak masuk Islam karena menurut logika sederhana mereka, orang bone islam, orang bone pembawa petaka, islam pembawa petaka). Itulah watak rakyat. Mereka yang merasakan pahit getirnya perang, mereka yang dijarah, mereka yang dibunuh, mereka yang ditempeleng, sehingga wajar kalau mereka mendendam sampai turun temurun.

Nah. apa usaha kita sekarang untuk menjernihkan kusut sejarah ini? Ini bukan pekerjaan mudah, sebab siapa pun yang pernah sekolah di sekolah Indonesia, pasti diajari bahwa versi sejarah cuma satu. Jadi kalau ada yang membantahnya si pembantah itu juga mengaggap verisnya yang paling benar atau peling unversal tanpa deviasi lokal. kita telah melewati pengajaran sejarah yang sangat buruk, mulai dari sejarah nasion-sentris ala Orde Lama lalu disambung militerisasi sejarah ala Orde Baru. Akibat paling kentara adalah orang-orang selalu ribut tentang ‘pahlwan’, tentang ‘raja’ dan ‘kerjaan’, yang semuanya adalah mainan elit, dan bukan tentang orang biasa, komunitas, dan kehidupan sehari-hari. 

Itulah mengapa rakyat dan elit sekarang membaca sejarah dari kacamata sempit elit. Walaupun mereka membaca Warisan Arung Palakka (saya sangat meragukan mereka mebacanya baik-baik), kalau cara berpikir elitis dan tunggal tdak ditanggalkan hasilnya seperti kita lihat di perdebatan di bawah tulisannya The Jimp.

sekitar itulah dulu catatan koddala saya,

salama’

dandi

 puan dan tuan,

Saya setuju dengan usul dikerja bareng. Ini menguntungkan saya yang sedang mengerjakan research paper, dimana deadline sudah dekat dan saya belum mulai nulis. JAdi saya mohon ampun tidak bisa berpartisipasi penuh, nanum hanya melempar sentilan-sentilan koddala’, dan Bang Sudi telah membuatnya terlihat lebih canggih dan ‘berisi’. ini meyakinkan saya bahwa kalau kita biarkan diskusi ini bergulir lebih lama. maka akan lebih banyak yang bisa dirangkum.

misalnya kisah perang makassar versi sinrilikna kappala tallu[a?]ng batua dari Anto patut kita tunggu. Sependek pengetahuan saya, kisah ini dibuat untuk mendamaikan rakyat Bone dan Gowa, karena mengisahkan bahwa Arung Palakka itu sebenarnya bersaudara dengan Sultan Hasanuddin. Dan kisah ini tentu bertentangan dengan syair panjang gubahan Entji Amin. The J tentu bisa menceritakan versi sekertaris Sultan Hasanuddin ini.

Demikian persepsi orang Bone tentang Arung Palakka yang sempat disinggung Anto juga menarik karena dia merekamnya dari cerita rakyat. Artikel Andaya itu ada dalam buku kumpulan tulisan yang sudah diindonesiakan. Ada di rumah saya, tapi pasti ada di KITLV juga, cuma kulupai judulnya bela.

Ketika bertemu Pak Leonard beberapa tahun lalu, dia bilang, waktu wawancara di tahun 70-an dia banyaka mewawancarai orangtua di atas 70 tahun, yang berarti masih mengingat kejadian perang bone di awal abad 20, yang dikisahkan dalam novelis Friedericy, yang disebutkan Bang sudi dalam tulisannya tentang opium itu.
 

Jadi semakin banyak perspektif, semakin kaya tulisan itu, dan menghindarkan kita mengkonstruksi sejarah yang miopis, alias berpandangan sempit karena hanya berdasar pada satu dua versi cerita.

Yang menarik bagi saya selalu adalah apa dampak ‘sejarah yang dirapihkan’ ini pada cara berpikir orang. dan apa dampak modernisasi terhadap cara berpikir orang terhadap sejarah. 

Nah, ada fakta bahwa ketika pesta rakyat bone, banyak orang mengenakan baju bergambar arung palakka, namun sangat sedikit yang membeli buku Warisan arung Palakka. (Aan bisa cerita lanjut tentang ini? pasti menarik). Ada juga fakta bahwa ketika beberapa anak SMA yang berlatih meneliti bertanya pada seorang penjual es di makassar tentang sejarah menggunakan kata ‘sejarah’: maka yang keluar adalah cerita tentang arung palakka  dan sultan hasanuddin.

Ini menandakan bahwa ‘sejarah’ telah dikuasai raja-raja, dan raja-raja itu hanya dikenali gambarnya saja, dan kisah hidupnya yang berasal dari sumber lisan yang seragam saja, dan bila ada sumber lain orang susah mempercayainya. tidak pernah terjadi perbandingan sumber atau kritik sumber sejarah.

Dan sejarah yang dipelajari di sekolah memperburuk penyakit ini, mereka menambahkan distorsi (telah saya sebutkan di surat sebelumnya) dan kebosanan terhadap sejarah, karena sebagian besar sejarah yang dipelajari adalah sejarah di tingkat nasional atau dunia. sehingga lambat laun orang makin lupa menjaga ingatan tentang diri sendiri.  

implikasinya, tidak heran jika masing-masing daerah membanggakan ‘pahlawannya’ yang merupakan konstruksi sejarah nasionalistik-militeristik yang miskin penelitian, dan mencela ‘pahlawan’ orang lain hanya karena semua orang bertindak sama, tanpa mempertanyakan “mengapa orang mencelanya?”. orang bisa bilang itu sah-sah saja, tapi kita harus bertanya “mengapa orang itu membanggakan pahlawannya saja, dan bahkan mencela pahlawan orang lain, dan mengapa mereka bicara soal pahlawan ketika merujuk tentang masa lalu? apa sejarah hanya berisi penguasa?”

Jadi kita perlu melacak motif dibalik bertahannya dendam berkarat Bone-Gowa itu, yang masih bertahan meski elitnya yang sudah kawin mawin itu sudah tidak lagi berkuasa sejak nasionalisme menang dan pendukung budaya kerajaan sudah sangat menyusut, dan penguasa sekarang bisa menggunakannya untuk menyulut sentimen anti-daerah atau anti-calon penguasa tertentu.

Persoalannya kemudian, pada titik ini lah orang sering terjebak membicarakan ‘pahlawan’ yang biasanya adalah bangsawan atau pemimpin militer atau gabungan keduanya. karena terlalu sering mendapat ‘highlight’, orang akan lupa membicarakan rakyat yang rumahnya dibakar dan dijarah, yang anggota keluarganya diambil menjadi budak hingga dikirim ke afrika. (mengutip Raffles, Marx menuliskan bahwa di Makassar terdapat benteng yang menyimpan banyak budak yang siap dikapalkan). Orang tergoda terus terhisap dalam pertelingkahan dan intrik kekuasaan elit dan melupakan kehidupa sehari-hari di pasar, di masjid, di sawah, di pantai, di rumah penduduk. 

Maka, dengan terus membicarakan para bangsawan ini, dan tidak memberikan porsi berimbang terhadap, atau setidaknya menggunakan kacamata, orang biasa, saya takut kita akan mereprodusi sejarah versi elit yang hingga kini masih berkuasa penuh di buku-buku sejarah anak-anak kita.

agaknya kepanjanganmi dan ngalor ngidulmi ini, 

salama’

dandi      

Mustamin Al Mandary

Sederhanaji sebenarnya masalahnya. Buku yang paling cocok menjadi rujukan, untuk saat ini, adalah bukunya Andaya itu, Warisan Arung Palakka. Disana dijelaskan, setidaknya latar belakang mengapa Arung Palakka bertekad untuk menggunakan semua kesempatan untuk mengangkat kembali derajat orang Bone waktu itu. Ingat siapa yang membuat benteng di sekeliling kerajaan Goa Tallo waktu itu? Benteng itu dikerjakan oleh budak-budak dari Bone, Wajo, Mandar, dan jajahan Goa Tallo lainnya dimana Arung Palakka sewaktu masih kecil pernah ikut juga dalam pekerjaan “paksa” itu. Dalam konteks ini, melihat penderitaan rakyat Bone yang “dihinakan” oleh kerajaan Goa Tallo waktu itu, muncul tekad Arung Palakka untuk membebaskan rakyatnya suatu saat. Untuk itulah Arung Palakka melarikan diri, selain memang karena diburu, ke berbagai tempat sampai ke Batavia. Dan ketika kesempatannya tiba, dengan bantuan Belanda, Arung Palakka tidak mau tahu, dia hanya ingin membebaskan rakyatnya dari “penjajahan”. Kita harus pahami bahwa hubungan antara Goa Tallo dan kerajaan bawahannya waktu itu tidak terlalu jauh beda dengan hubungan Belanda dan kerajaan2 lain. Bukankah motifnya sama?

Kondisi yang sama juga terjadi dalam hubungan Bone dan Wajo di masa Lamaddukelleng. Lamaddukelleng sebenarnya menyimpan “dendam” terhadap penguasa Bone sama dengan dendam Arung Palakka terhadap penguasa Goa Tallo. Lalu muncullah pemberontakan Lamaddukelleng ke kerajaan Bone sepulangnya dari Pasir (pernah jadi Sultan disana). Menurut saya, kita harus memahami relasi kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan waktu itu dalam pengertian ini untuk membuat sebuah analisa.

Jika dibawa ke kondisi sekarang, hubungan bilateral yang menguntungkan antara dua negara tidak harus disebut perselingkuhan. Ketika Arung Palakka merasa bahwa hubungannya dengan Belanda memberikan manfaat, khususnya dalam merebut kembali derajat kebangsaannya, maka dia merasa perlu untuk melakukan hubungan saling menguntungkan itu. Jadilah perang antara Arung Palakka dan raja Goa Tallo. Persoalan raja Goa kemudian dihukum oleh Belanda dan Arung Palakka, itu adalah konsekuensi perang. Waktu itu, kita mungkin harus menegaskan, tidak ada negara seperti yang kita pahami sekarang; yang ada adalah kerajaan Bone dibantu Belanda di satu pihak dan kerajaan Goa Tallo di pihak lain. Mereka berperang atas nama derajat kebangsaan masing-masing.

Lalu apakah Arung Palakka adalah pahlawan atau pemberontak? Kita harus mencari jawabannya dari sudut pandang yang jelas. Jika dilihat dari upayanya untuk membebaskan rakyatnya dari penindasan (yang waktu itu dilakukan oleh raja Goa Tallo), maka dia adalah pahlawan bagi rakyatnya. Namun, Arung Palakka bisa divonis pemberontak jika kita mengatakan bahwa dia telah bekerjasama dengan Belanda melawan Indonesia. Tetapi siapa Indonesia waktu itu? Kalau menurut saya, kita tidak usah memperlebar masalah dengan membawa-membawa Indonesia yang belum ada waktu itu. Arung Palakka jelas adalah pahlawan bagi orang Bone (belum tentu bagi orang Wajo atau Mandar), tetapi dia pasti dianggap penghancur bagi orang Makassar. Tapi Makassar yang mana? tentu Makassar yang dulu.

Tetapi, menyambuti ungkapan teman-teman, Iqbal dan Dg Nuntung, sejarah ini tidak mestinya mengorek luka lama, kedengkian antara orang Bone dan Goa Tallo; mungkin dalam tataran lain kedengkian Wajo terhadap Bone atau Mandar terhadap Bone. Kita harus memperlakukan sejarah sebagaimana adanya dan mengambil hikmah dari peristiwa itu. Secara sosio-politis, tindakan yang dilakukan Arung Palakka dan Sultan Hasanuddin waktu itu masing-masing punya pembenaran dalam pandangan masing-masing. Adapun sejarah yang muncul belakangan pasti tidak lepas dari pemihakan. Kalau membaca sejarah agama, kondisinya jauh lebih buruk dan menyakitkan. Tetapi apakah kita hanya akan mengikuti sejarah yang dibentuk di masa kini itu tanpa kritik? Bagi saya, kritik yang dewasa-lah yang bisa memberikan kearifan.

Mustamin

(Laa syarqiyyah walaa garbiyyah, Tidak di Timur dan Tidak di Barat)

M Hasymi Ibrahim

 Shn, saya setuju dengan anda dan posting dari saya sebelumnya sudah menawarkan agenda kerja.Yang ingin saya komentari ialah apa yang saya sebut sebagai Post-Mattulada.Ada asumsi yang saya pegang setelah membaca Yahya yaitu bahwa setidaknya harus muncul generani penulis-peneliti sejarah, antopology atau apalah namanya, yang tidak lagi meneliti dan menulis ideal-ideal masyarakat Bugis Makassar masa lalu seperti yang dikerjakan oleh generasi Mattulada. Saya membayangkan Bung Yahya bisa menjadi pelopor untuk menampilkan BugisMakassar Yang Sebenarnya (the truly BugisMakassar, untuk meminjam slogan kampanye wisata Malaysia: The Truly Asia). Kalau generasi Mattulada, Andi Zainal sampai Abu Hamid, mereka tidak bisa lain melukiskan BugisMakassar dalam tataran ideal karena mereka memposisikan diri sebagai “pembentuk” Sulawesi Selatan. Sebagai generasi pembentuk, mereka bekerja dan berkarya dalam atmosfir rentan keretakan Bugis dan Makassar karena pasca pemberontakan Kahar Muzakkar Sulsel seakan baru saja lahir dan diciptakan kembali. Pada aras politik, kompromi paling mungkin pada jaman Orde Baru, pasca pemilu 1971, misalnya ialah menempatkan seorang Gubernur yang bukan Makassar dan bukan Bugis sehingga muncullah Lamo yang Enrekang. Saya kita, Yahya, Dandy, Andi Akhmar dan banyak lagi kawan-kawan paling tidak harus kita dorong untuk menggunakan sudut pandang TheTruly Bugis Makassar tersebut, apalagi Yahya sudah memulai dengan Pujiale itu.

Basri Amin

 Dear teman2 “Panyingkul”,Arung Palakka, Sejarah dan Kita
——————————-
Usulan utk merekam “perbincangan” ttg Arung Palakka
dan sejarah adalah sangat baik adanya. Tapi, rekaman
ini juga akan sekaligus berhubungan dengan keadaan
“kita”, yakni semua individu yg aktif, jujur, terbuka
dan yg sungguh2 membahasnya. Sejarah menjadi (selalu)
penting krn kita tampaknya tak bisa menghindarkan diri
darinya dgn mudah. Bahkan, banyak pihak berpendapat
bahwa apa yg terjadi “saat ini” dan yg akan terjadi
“nanti” tdk akan pernah bisa berjalan melampaui
“pantulan sejarah” yg melahirkan masyarakat itu.
Tapi, jangan sampai gambaran ttg masa lalu, tentang
kebesaran sejarah yg pernah dicapai, ttg kritik
kepahlawanan, ttg konflik, ttg kritik identitas, dst
yg memadai tdk berhasil kita capai, sementara gambaran
tentang keadaan “kita” lebih besar dan
dominan…egoisme utk mematok batas-batas kebenaran
tunggal tampaknya hrs kita tolak. Karena itu tdk salah
kalau kita sebisa mungkin tdk terlalu “normatif”
(dalam budaya) dan tdk terlalu mudah berpikir
dikotomis-linier (dalam sejarah).
Bebaskanlah diri kita, agr sejarah yg kita pelajari
bisa pula membebaskan kita.

Karena itu, perkenankan saya bertanya: mungkinkah
topik ini kita bahas bersama dgn pikiran dan jiwa
“orang biasa”? Mohon redaksi Panyingkul memberi
sedikit keterangan ttg sejauh mana “perspektif orang
biasa” ini bisa kita andalkan utk topik yg cukup
penting dan mudah meng”hangat”kan pikiran dan
me”nyulut” perasaan (subjektif) ini?
————–
Saya kira, tentang topik ini, masih terhampar jarak yg
luas antara setiap bacaan dan akurasi data yg
dimuatnya –tentu termasuk tafsiran dan kesimpulan
akhirnya– dgn kemampuan kita dlm memahaminya. Entah
utk kemudian bisa sepakat atau tidak. Antara “teks”
dan “konteks”, dalam sejarah, cukup mudah tumpang
tindih kalau dicoba dipahami dgn perasaan setiap KITA
masa kini (yg sangat mungkin punya ikatan-ikatan) yg
kental atau pun longgar dlm soal ruang peristiwa,
geneologi, ideologi dan memori (kolektif?). Dengan
demikian, peristiwa2 masa lalu kita letakkan dalam
ruang2 psiko-historis kita yg bisa amat lengket dgn
benturan2 interest, pola2 sosial (elitisme?) dan
bahkan tragedi-tragedi masa kini (lokalisme?).

Tulisan sejarah tidak akan pernah lengkap dan mewakili
semua pikiran dan kemauan kita..sejarah yg benar (saya
kira) adalah yg selalu ditulis terus menerus..tentu,
dgn ketundukan yg jujur dan memadai kpd
sumber-sumbernya (yg tertulis!!) Kita harus rela
menerima setiap unsur “subjektif” dlm mengutarakan
tafsiran. Demikian juga dgn “versi” lainnya.

Itulah sebabnya, kalau berkenan, utk kepentingan
generasi Sulsel yg lebih baru, yg lebih tercerahkan,
KITA mestinya menghadapi setiap peristiwa yg pernah
ada di masa lalu dgn kesadaran, bahwa ada banyak hal
yg pantas kita “warisi”, tapi KITA pun perlu tegas
menancapkan batas-batas kesadaran baru utk “tugas”
sejarah yg penting dan pantas utk dikerjakan. Sejarah
adalah pelajaran, meski banyak masyarakat gagal
belajar dr sejarahnya…”
————–
Almarhum J. Noorduyn (1926-1994), ahli Sulawesi yg
terkenal itu, senang mengutip ungkapan di bawah ini:

“…There can be no writing of history without a
history of writing” (Chao, 1961: 69)
——————
Dengan semangat ini, tangan saya ikut terbuka utk ikut
bahu-membahu mendiskusikan sejarah dan masa depan kita
di Selatan Sulawesi, di Timur Nusantara.

Salam hangat, jabat erat, maaf utk hal2 yg tdk
berkenan

Basri

One Response to “Mencari Pertautan “Bugis-Makassar: Sultan Hasanuddin – Arung Palakka”

  1. Pirdaus Says:

    aku anak keturunan Bugis Bone Asli 100 %. dlm darahku mengalir darah Arung Palakka. cintaku, kekagumanku pada sosok Arung Palakka mendorongku untuk melukis sosok Arung Palakka dgn badan yg berotot lengkap dgn atribut kebangsaannya. Kalau ada Kisah ttng Arung palakka tolong kirim ke E-Mail khu. trims….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: