Archive for the ‘Pernik Sosial Budaya Sulawesi Selatan’ Category

Lagi Kemiskinan

October 28, 2007

Yahya Pojiale:

usia kemiskinan, setua dengan usia kemanusiaan itu sendiri. Dalam pada itu, maka kemiskinan sesungguhnya merupakan takdir manusia. Namun karena kemiskinan membawa implikasi permasalahan yang amat luas bagi manusia, maka kehadirannya wajib dimusuhi. 

Setuju dan tidak sependapat dengan suatu faham ialah takkdir manusia, Takdir karena manusia lahir sebagai sebuah entitas yang unik, memiliki kapasitas intelegensi dan endapan pengalaman yang beragam, karena itu perbedaan pandangan merupakan suatu yang niscaya. Serupa halnya dengan kemiskinan, telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah kehidupan umat manusia. Jika demikian halnya, maka  kemiskinan merupakan takdir manusia. Keberadaannya akan senantiasa hadir mengiringi keberadaan umat manusia,Entitas kemiskinan akan setia mengiringi keberadaan manusia. Sebab, kalau fenomena kemiskinan telah berhasil dienyahkan oleh umat manusia, maka sejumlah teks-teks agama akan diperbaharui. Bagi pemeluk teguh ajaran Islam, tentu hal itu merupakan sesuatu yang mustahil. sebab teks suci Al Qur’an diyakni sebagai teks yang lengkap untuk segala jaman.

Olehnya itu, maka kemiskinan merupakan suatu takdir bagi manusia. Kehadirannya amat dibenci, tetapi akan terus hadir mengiringi keberadaan umat manusia. Jadi tak mungkin lagi turun ayat-ayat baru 

Saya kurang memberikan curahan perhatian yang memadai berkenaan dengan teks Qu’an dan Hadis,  karena itu saya tergolong awam dalam hal teks-teks tersebut. Tetapi saya sedikit memberi curahan perhatian terhadap manusia dari aspek biososiobudaya, dan psikososial, termasuk sosioekonomi.Dari curahan perhatian itulah, saya kemudian menemukan bahwa kemiskinan merupakan sesuatu yang inheren dalam sejarah manusia, kedudukannya sama dengan penyakit, ditakuti, dibenci, tetapi akan terus menyertai keberadaan manusia hingga akhir jaman. Manusia memang berkewajiban untuk memusuhinya, tetapi jangan pernah bermimpi bahwa kemiskinan akan dapat dienyahkan dimuka bumi. Fenomena itulah yang diresponi oleh berbagai teks-teks suci. Dan bahkan salah satu indikator kualitas keimnanan seseorang ialah ketika ia memberi curahan perhatian dan tindakan nyata untuk memusuhinya.

Dari perspektif itu, maka saya memandang kemiskinan sebagai sebuah takdir.Jadi saya tidak melihat masalah kemiskinan dari perspektif individu yang terjebak dalam lingkaran kemiskinan. Pada level individu, seyogyanya kemiskinan tidak diterima sebagai suatu yang given, sebab hal itu bertentangan dengan pesan dan printah Tuhan yang tertuang dalam berbagai kitab suci.

Salamaki

tetapi lebih pada teks alam.

B Vauly

Ada banyak sekali ayat dalam Al Quran yang berkisah soal kemiskinan dan keharusan memperhatikan orang miskin, kalau nanti orang miskin sudah tidak ada, mungkin Allah SWT akan menurunkan ayat-ayat baru.Kemiskinan hidup selama hidup merasa miskin,    

 Kemiskinan yang terjadi tidak hanya berkaiatan dengan  ketiadaan
sumber daya alam , tapi juga terkait dengan kebijakan politik negara mulai
dari tingkat nasional hingga tingkat  lokal, kebijakan bupati, camat, lurah.
Dan tak kalah pentingnya kebijakan dunia dengan perdaganagn dunia yang
intinya pada ahirnya melanggengkan kekuasaan negara adi daya , dan
menghempaskan negara  yang termasuk katagori negara  - selatan…

Jadi menurutku di Indonesia sebenarnya yang terjadi i pemiskinan karena
kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat secara hakiki , tetapi
berpihak kepada kelompok tertentu.. ..

ok, salam lestari, zohra andi Baso

Sebelum thread ½Kemiskinan½ ini dipaparkan, saya sempat kutipkan ungkapan dari ´orang di dunia sana´ (yang katanya adalah negara adi daya dunia) bagaimana dia melihat apa itu ´kemiskinan´.  

Yup! Kemiskinan memang tidak akan pernah hilang, terserah apakah karena itu kemudian maka kemiskinan itu disebut sebagai sebuah takdir atau nasib.

Kalau mau -straightly speaking- setiap kita menekan tombol ´start´ pada komputer kita masing-masing, maka itu telah terjadi proses pemiskinan di daerah/belahan dunia lain. Lha, mana kaitannya? Mungkin kita bilang begitu…. Sekedar illustrasi, secara berkelakar pernah saya mengomentari seorang teman di atas trucknya, sa bilang setiap harga bahan bakar naik, di sini (di calgary waktu itu) paling pengaruhnya cuman orang kayak kamu yg ngedumel… Di negara saya, kenaikan bahan bakar bisa berarti penggantian President dan pemiskinan yg dampaknya adalah nyawa. (Truck-truck lux bermesin gede menjadi trend di Calgary)

Jadi, kita semua juga adalah penyumbang proses pemiskinan itu, meskipun tidak kelihatan dan frequensinya tidak signifikan. Tetapi mau berkata apa, kita membutuhkan teknologi, agar di belakang hari tidak ikut menjadi objek diskusi sebagai orang miskin.

Balik ke dalam negri, skala kotamo…  Sekarang coba kita tanya, ke kota mana sumber-sumber energi yg ada di Kalimantan atau di daerah lain dalam negara kita terkonsumsi?…

Lalu bagaimana setiap daerah bisa mendapatkan dana pengelolaan manajemen kepemerintahannya jika ´nyawa´ dari aktifitas dan produktifitasnya terdistribusi dengan pincang?…  Sumber pendanaan-kan dimana-mana ujung-ujungnya adalah dari pajak  – investor -  pinjaman (oleh negara dan institusi non negara)…  Dan yang paling ´safe´ adalah sumber pendanaan dari pasar/penjualan produk.

Sampe disini kamase, moka tanya lagi, APA YG MAU DIJUAL? … Hubungkan pertanyaan ini dengan pertanyaan berikut: P.a.d. yg dominan dari kota Makassar dari INDUSTRI APA? … INDUSTRI MALAM-kan?… Artinya Seisi Makassar itu tersuapi oleh industri malam, so to speak… Dari sana tommi ada ongko-ongkosona pemdayya membiayai pendidikan gratis bagi penduduk kepulauan…. (bahkan tahun 2003 lalu ada draft pembiayaan kesehatan gratiskan? kalau ada yg masih ingat?)….

Jari?… Disini accarita moral maki… carita ayat maki… Antekamma.

Okelah, masak tergantung industri malam saja? Pasti ada yg pikir gitu… Oke sebutkanmi padeng apa lagi potensi yg ada…

To the point saja: Apa Produk Lokal Makassar yang terpajang di etalase-etalase mall-mall kota lain dan di negara lain?… Tolong sebutkan satu saja branding… Ada yg bisa?…

Selama kita tidak luangkan waktu memikirkan ini, jangan mengeluh jika negara-negara kuat taking advantage the situation of  the global market hierarchy. Kita di tengah dan timur Indonesia juga sedang ada di alas-alas piramida hirarki itu, cappo… Makin kita di dasar piramid itu, makin lebar peluang virus kemiskinan menulari kita… So to speak.

Think and linked globally but drink coffee locally! Naaahhhhh ini rumus mujarab Warkop Institute… Naisbitt kelaut aja… Hehehehe…

Tabe lompo

Warkop Institute

http://warkop-institute.blogspot.com

Halim Hade

‘kemiskinan relatif’ dikaitkan dengan penguasaan
tehnologi. dengan demikian, maka kondisi itu berarti
sebagai proses pemiskinan:
sebab tehnologi yang diterapkan disini adalah
tehnologi dari emberikan, nipong, inggris. bukan
tehnologi lokal yang ada. dan tehnologi disini lalu
dikaitkan dengan pendidikan tinggi. dan pendidikan
tinggi sudah menjadi industri.
sama persis seperti ketika orang ngomong soal pupuk,
itu berarti pupuk dari multinational corporation,
bukan pupuk-ekologis yang ada disekitarnya.
numpang nanya: bisakah kita bicara soal kemiskinan
tanpa keadilan sosial?
hhd.

kemiskinan itu sistemik. jakarta tidak akan memiliki
dokap jika tidfak mengeksploitir papua, kalimantan,
dan sulawesi serta sumatera.
dan jakarta membuat para-kuli lokal, serta kuli
kontrakan menengah dari jawa dan daerah sekitarnya
agar langgeng menguasai sumber alam.
secara politis, isu pemilihan kepla daerah harus
putera daerah, oleh orba untuk lebih meneguhkan bahwa
putera daerah itu adalah ‘kuli kontrak’ politik
ekonomi yang direstui oleh suharto dan tni-ad. untuk
itu setiap pemda, tingkat satu dan dua, mesti memiliki
ditsospol, yang biasanya perwira menengah angkatan
darat. para kuli menengah lokal inilah yang dipelihara
sebagai boneka. dan mereka harus menjalankan perintah
dari jakarta.
LALU muncul desentralisasi. habibie berusaha
meneguhkan soal itu. tapi, desentralisasi dalam wujud
otonomi daerah menjadi kanibal. mantan para kuli
kontrak orba itu saling berebut dan saling kanibal.
‘pengembangan daerah’ bukan untuk memngembangkan
potensi ekonomi daerah bagi kesejahteraan warga, tapi
untuk kesejahteraan elite lokal.
itulah sebagian kecil dari proses pemiskinan dan
ketidakadilan sosial di nusantara.
kemiskinan dan eksploitasi – contoihnya ini: rotan
terbaik di dunia hanya ada di wilayah nusantara: papua
dan kalimantan serta sumatera. sekitar 50 prosen hutan
dan hasil rotan di dunia ada di nusantara. tapi,
produk dalam bentuk disain yang dihasilkan oleh
indonesia hanya sekitar 2-3 prosen.
ada orang yang menyatakan: ini akrena kita tidak
menguasai tehnologi. OMONG KOSONG!!
marilah ambil contoh lain: pada jaman kolonial, topi
pandan, topi rotan, topi bambu serta berbagai sarana
lainnya dari hutan indonesia merajalela di amerika
latin dan eropa. tahukah anda bahwa topi yang
digunakan oleh petani dan kalangan elite di amerika
latina serta topi tentara kolonial di afrika produk
dan itu dihasilkan oleh tehnologi sxerta keterampilan
tangan di nusantara.
tahukah anda ribuan orang datang ke pasuruan untuk
belajar bagaimana menanam tebu dan membuat gula pasir.
itu pada sekitar antara 100-130 tahun yang lampau.
dan kenapa pula kita kini impor gula?
ahli dari suny (state university of nye york) at
binghamton, wallerstein dan james petras bilang:
sistem dunia melalkuklan eksploitasi.
kemiskinan tejadi karena adanya eksploitasi, ada
sistem yang menjadikan orang lain sebagai komoditi.
DAN AGAMA? tak sedikit kata ‘adil’, seperti yang
pernah saya dengar dari rekan saya, mas musa asy’arie,
dosen di iain sunan kalijaga: adalah kata dan maknanya
yang paling banyak dalam al qur’an.
kata mas johan effendi, mantan penasehat gus dur
bilang, tahukah anda bahwa marx itu nabi dengan ‘n’
kecil, nabi tanpa wahyu, lantaran dia pemikir yang
paling banyak membicarakan soal ketidakadilan sosial
secara sistemik.
jika kita bicara tentang kuli, tentang buruh, tentang
ketidakadilan sosial, maka kita mesti bicara mbah
jenggot itu dengan ribuan tafsirnya.
amado guerero, mantan pastor dan comandante gerilya di
coldilera filipina jaman marcos dalam suatu wawancara
dengan newsweek: dua kitab yang selalu saya baca:
injil dan das kapital.
kata eduardo galeano, jurnalis-sasterawan uruguay
bilang: tak ada orang yang paling mendalam serta
komprehensif yang membicarakan tentang eksploitasi
manusia setara dengan mbah jenggot.
DAN DI SULSEL, yang ada PAK KUMIS, hehehe, kenes lagi!

kepada SIAPA ayat-ayat itu diturunkan? soalnya ketika
anda menyampaikan “mungkin Allah SWT akan menurunkan
ayat-ayat baru” punya konsekuensi logis: ada nabi
‘baru’, ‘nabi penerus’? apakah ‘ayat’ yang anda
sampaikan disini metafora, atau suatu tafsir untuk
menyatakan bahwa diperlukan suatu eksplorasi atas ayat
itu untuk diterapkan secara riil, konkrit ke dalam
kehidupan berwarga?
hhd.

Waduh kayaknya diskusinya sudah lewat, maaf baru saja mudik dari mudik.
Penjelasan kata MUNGKIN sesungguhnya ingin menerangkan betapa sedikitnya probabilitas akan lenyapnya “kemiskinan” di permukaan bumi, demikian sulit untuk melenyapkannya hingga harus dibuatkan jargon untuk dimusuhi sebagai bentuk ajakan kolektif kepada semua manusia. (vauly)

Apa Kata Mereka tentang: Korupsi dan Kemiskinan

October 28, 2007

Quote:  “Korupsi adalah budaya bangsa”  Siapa yang setuju?½

WarkoT InstituP: … Sobonarnya kombali ke pertanyaan ½… apa itu budaya… ½ … akan totapi, SoboluMnya saya mengutiP dulu anjuran Dg. Nuntung, bahwa mentong jangan kita terjebak debat dipinisi-dipinisi… Debat dipinisi-dipinisi inilah yang dalam Kopitalisme nia nikanayya sobagai Intellectual Exercise (IE) Annemi IE parallui sikeddek nikurangi, salah satu carana bedeng di palsipikasi… Dan dalam rangka valsifikasi-valsifikasi itulah saya banyak memparodikanG dipinisi-dipinisi…

Kombali ke soal buaya, ekh… budaya (betulmika tulisanna begitu?…:-)  … Sudah adami juga dalam Kopitalisme term nikanayya Unfortunate Culture, debat 3 tahun lalu di milis Apakabar. Karena kalau diliat dari kacamata hard-sains, yang namanya kultur itu, bendanya tidak ada, sobonarnya. (sekedar pengistilahan wilayah grey zone antara secular dan non secular) Sementara penempatan baik atau tidak baik, adalah berdasarkan memory kolektif (sejarah, tradisi, dll) komunitas penganut believe-system tertentu.

Dipermukaan koropsi dikatakan masalah kriminalitas, okelah itu formalnya. Lalu?… Gimana kalau penjaga gawang formalnya juga koropsi? (tentu nakana bajiki menurut dia, maka nagaukangi)… Seseorang ditilang dalam perjalanan rapat, lalu anynyogoki (tentu nakana bajiki menurut dia, maka nagaukangi)… Sampe yg mau ngurus ktp anynyogok supaya cepat (tentu nakana bajiki menurut dia, maka nagaukangi)… Secara kolektif mereka -tdk dipermukaan- bersikap: bajiki menurut dia, maka gaukangi… Lama lama kemudian -terbudidayakanGi- lalu tdk terasa suda menjadi belive-system… Itulah nilai yang dianutnya bukanG? …

Ada illustrasi caddi, begini…

Pak Polisi (menghormat) ½ SIM dan STNKnya mana pak½ menghentikan sepeda motor yg dikemudikan seorang Mahasiswa, katakanlah si Kandacong, yang barusan melanggar lampu merah.

Kandacong: ½Oh, anu pak… STNKji ada, SIMku sa lupaki…½ (padahal tena nia SIMna)

Pak Polisi bolak balik lembaran SIM ½Begini, cepatmoko pergi… Ayo sana pergi…½ Pak Polisi mengembalikan lembaran SIM, dan menyuruh Kandacong cepat pergi, tanpa mengeluarkan surat tilang, atau minta apa-apa.

Kandacong, kebingungan ½Adaji pak, kalau 5000, maklum kodong pak, saya mahasiswa…½

Pak Polisi: ½Sudah cepat sana pergi, sebelum kamu diliat temanku… Kau beli saja bensin atau buku dgn uang 5000-mu itu…½

Sebelum pergi Kandacong masih penasaran, kenapa Pak Polisi ini tidak mau terima uang 5000-annya… (Artinya sudah jadi TRADISI bagi Kandacong dan cerita-cerita umum bahwa yg tidak punya SIM menyogok kalau kena tangkap.)

Pak Polisi, sedikit membentak: ½Saya bilang cepat pergi… Sudah tidak usah banyak cincong… anakku juga… mahasiswa!½… Si Kandacong lalu ngacir dan menganggap bahwa pengalaman tersebut adalah hal yg ½luar biasa½ tidak terlupakan seumur hidupnya. Sebab kejadian ½luar biasa½ itu telah melanggar believe-system yg selama ini dianutnya: Budaya Menyogok.

Di tingkat lebih kompleks, istilah kerennya adalah: Koropsi…:-)

Tabe Lompo…

Warkop Institup

http://warkop-institute.blogspot.com

“Korupsi adalah budaya bangsa”
>
> Siapa yang setuju?
>
> Maaf, dari apa yang selama ini sering dikampanyekan oleh banyak lembaga anti-korupsi di berbagai media yang masuk ke mata dan telinga saya malah berlawanan dengan pernyataan tersebut. Yang saya sering lihat dan dengar adalah :
>
> “Korupsi bukan budaya, tapi kriminalitas”
>
> Sekali lagi maafkan saya kalau pemahaman saya keliru. Menurut saya jika korupsi sudah dianggap sebagai budaya bangsa kita, artinya korupsi itu legal. Kalau korupsi adalah budaya, maka marilah kita galakkan bersama-sama. Tapi karena menurut saya budaya adalah segala sesuatu hasil budi daya manusia yang dicipta dan disebarkan untuk peningkatkan taraf hidup manusia ke arah yang lebih baik, maka korupsi tidak sama dengan budaya. Karena malah menjerumuskan manusia ke tingkat moralitas yang paling rendah.
>
> Lalu, kalau bukan budaya, mengapa korupsi dibudidayakan?
>
> Bukan di-’budidaya’-kan, tapi korupsi membudidayakan dirinya sendiri. Karena korupsi tidak pernah berdiri sendiri. Yang berdiri sendiri itu adalah maling ayam, pencopet, penjambret dan sejenisnya yang bisa dilakukan tanpa melibatkan orang lain. Sedangkan korupsi, selalu berhubungan dengan kejahatan orang lain, perlakuan orang lain, katabelece, komisi dan lain yang serupa. Korupsi itu seperti “kanker” yang akarnya kemana-mana. Jadi untuk membasminya juga tidak mudah. Karena jika satu sel diangkat, akar-akarnya tidak pernah mati. Lalu akar-akarnya itu suatu saat akan berubah menjadi sel kanker yang baru. Begitu pula korupsi.
>
> Kasus NH hanya sebuah sel dari ribuan sel yang saling berhubungan. Mengapa baru sekarang diangkat? Karena baru ketemu caranya. Tapi tidak akan mematikan sel-sel yang lain. Lalu, dimana letak inti sel yang menjadi pusat semua sel-sel itu? Jawabnya, tidak ada! Makanya korupsi sulit dibasmi. Namun kalau kita mau bercernin dan memahami siapa diri kita yang bernama manusia yang berbudaya yang merupakan ciptaan yang dibanggakan Tuhan, inti itu adanya di dalam diri kita masing-masing yang berbentuk segumpal daging yang kalau ini sakit, maka sakitlah seluruh tubuh, jasmani dan rohani.
>
> Sekali lagi, mungkin perlu perenungan yang dalam dari kalbu kita yang paling dalam. Apakah kita mau korupsi menjadi salah satu dari budaya kita?
>
> Salam,
> Dey
> *mau tongi berpendapat, pammopporanga kalo saya salah…

Sosodara,Kompas hari ini menurunkan 2 artikel tentang Brain Drain. Saya selalu tertarik membahas ini, karena saya merasa sebagai orang yang berada di dalamnya. Saya adalah satu dari ribuan orang Indonesia  yang bersekolah ke luar negeri, lalu memilih tidak pulang untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Saya jadi buruh di negeri orang.

Global imigration menjadi semakin besar. Pasar kerja global makin meluas.
Saya pernah melakukan survai sederhana di tempat kerja saya. Semua mahasiswa Malaysia yang kerja part-time, pasti menjawab: “Bila studi selesai, pulang bekerja di Malaysia!”, sebaliknya mahasiswa Indonesia yang part-time akan menjawab, “Waduh…gak tahu mau ngapain di Indonesia..” Maka pola mahasiswa Indonesia di Jepang adalah sekolah s1-s2 lanjut s3 atau masuk pasar kerja di Jepang. Celakanya, tidak sedikit di antara mereka yang masih berstatus PNS atau terikat kontrak dengan lembaga seperti LIPI, BPPT, Batan, dll. Berbeda dengan skema beasiswa dari pemerintah Australia, US, Inggris, Belanda, Jerman dan negara Eropa lainnya, beasiswa Jepang tidak mewajibkan penerima beasiswa pulang ke negara asal. Asumsi saya, brain drain terbesar ada di negara matahari terbit ini. Tapi ini tanpa menghitung brain drain yang lewat jalur profesional, misalnya profesional migas yang “bedol desa” ke Malaysia beberapa tahun lalu, juga “rombongan pilot” yang pindah ke berbagai negara, ahli pesawat yang “dibajak” Brasil dan Argentina. Belum lagi para doktor bidang teknologi informasi, otomotif, biomolukuler yang di-head-hunted oleh universitas dan lembaga riset. Jumlahnya jangan tanya deh… buanyaaaaakkk…
Mari kita diskusikan, dengan catatan saya dan Farid tetap bercita-cita pulang dan mengabdi di desa suatu hari nanti, mungkin ke Selayar atau ke Soppeng….
ly


smntara kami yg disini, di perush minyak di indon lg mengincar middle
east dan malaysia…..
hanya kesempatan meng up grade CV (intrnsional exposure)…..
diperush t4 sa kerja, hmpir setiap bulan ada saja yg resign dn pindah
either ke middleast or malaysia….
mgk ust mustamin jg ada rencana? maaf, cuman seloroh patikana2i ji he2

————————-
rusle
http://daengrusle.com
http://muhruslee.multiply.com

Ada beberapa argumen menarik dari kawan-kawan yang berniat pergi.

Antara lain, katanya, mereka bisa menghemat usia.

Penjelasannya begini : “kerja enam tahun di Indonesia, setara dengan kerja setahun setengah di luar”.

Apapun tafsir kita atas argumen itu, saya kira itu alasan yang sangat masuk akal.

Misalnya, Ruslee bisa menghemat empat tahun, sehingga pada usia 45 tahun, dia sudah bisa pensiun dan tinggal mengurus Panyingkul dan blog serta buku-bukunya.

Ya, kan?

Salam

alasan menarik: menghemat umur dan mempersingkat masa kerja! Wah saya masuk di sini kayaknya…
tujuh tahun bekerja di luar, ada hikmahnya, sekarang bisa banyak waktu luang mengurus Panyingkul, membuka kelas menulis, mencoba resep di dapur, mengurus kerja2 kemanusiaan lainnya, dan ini yang lebih penting: tetap punya waktu yang banyak di rumah bersama Fawwaz dan Farid :), tapi ya tetap banyak gak enaknya kak Ami…: mudik muahalllll, lebaran pasti sepi dan rindu, selama di Jepang, menu lebaran paling poluer justru BAKSO…:(
kalo sakit, wah jangan ditanya..dua tahun lalu saya diopname sebulan di RS, terasa siksanya sendirian di negeri orang :(
ly

- Show quoted text -

hasymi ibrahim <hasymi.ibrahim@gmail.com> wrote:

Ada beberapa argumen menarik dari kawan-kawan yang berniat pergi.

Antara lain, katanya, mereka bisa menghemat usia.

Penjelasannya begini : “kerja enam tahun di Indonesia, setara dengan kerja setahun setengah di luar”.

Apapun tafsir kita atas argumen itu, saya kira itu alasan yang sangat masuk akal.

Misalnya, Ruslee bisa menghemat empat tahun, sehingga pada usia 45 tahun, dia sudah bisa pensiun dan tinggal mengurus Panyingkul dan blog serta buku-bukunya.

Ya, kan?

Salam

From: panyingkul@yahoogroups.com [mailto:panyingkul@yahoogroups.com] On Behalf Of Lily Yulianti
Sent: Thursday, October 04, 2007 11:07 PM
To: panyingkul@yahoogroups.com
Subject: Re: [panyingkul] Brain Drain dan saya…

mau ke Qatar kah dikau?
ahlan wa sahlan….:)
ly

Rusle’ <muhruslee@gmail.com> wrote:

smntara kami yg disini, di perush minyak di indon lg mengincar middle
east dan malaysia…..
hanya kesempatan meng up grade CV (intrnsional exposure)…..
diperush t4 sa kerja, hmpir setiap bulan ada saja yg resign dn pindah
either ke middleast or malaysia….
mgk ust mustamin jg ada rencana? maaf, cuman seloroh patikana2i ji he2


————————-
rusle
http://daengrusle.com
http://muhruslee.multiply.com

No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.14.0/1049 – Release Date: 10/4/2007 8:59 AM

No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.14.0/1049 – Release Date: 10/4/2007 8:59 AM

Berbicara soal kemiskinan, mungkin masih ada yang ingat janji 189 pemimpin dunia pada September 2000 yang sepakat mewujudkan Tujuan Perkembangan Millenium atau Millenium Development Goals (MDGs), yang intinya berjanji bekerja keras mengakhiri kemiskinan di tahun 2015?

Tahun 2007 ini MDGs sudah setengah jalan, lalu apa wujud kerja keras pemimpin dunia yang nyata kita lihat sekarang ini? Kemiskinan malah menjadi-jadi!

FYI. Menurut rencana 17 Oktober 2007 akan ada demo besar-besaran di seluruh dunia yang digerakkan oleh UNDP dan akan dicatat dalam Guinness Book Of Records. Demo “Bangkit Dan Suarakan” itu intinya adalah untuk mengingatkan pemimpin dunia untuk menepati janji yang diikrarkan 7 tahun lalu itu.

Informasi selengkapnya baca di http://www.stoppemiskinan2015.org

Moga bermanfaat.

Salam,

Dey

*2015, mudah2an saya masih hidup, amin

Kemiskinan hampir seumur dengan sejarah manusia, tepatnya sejarah penjajahan terhadap kelompok manusia tertentu. Sedihnya, kemiskinan telah melahirkan berbagai penyakit sosial yang membuat kondisi sosial semakin akut. Bahkan dalam keadaan terburuk, kemiskinan menjual fitrah manusia. Itulah karenanya Rasulullah Saw mengatakan, “kemiskinan dekat kepada kekafiran” dan Sayyidina ‘Ali menegaskan bahwa “seandainya kemiskinan adalah seseorang, maka saya akan membunuhnya.”

Teori kemiskinan sebagai reaksi terhadap kondisi masyarakat muncul belakangan. Saat ini, kita mengenal kemiskinan struktural dan kemiskinan kultural. Yang pertama mempercayai bahwa kemiskinan adalah akibat struktur masyarakat, dan yang kedua meyakini bahwa kemiskinan juga menyangkut kebudayaan. Kedua mazhab ini mempercayai bahwa kemiskinan adalah akibat ulah masyarakat sendiri. Mungkin harus dijelaskan seberapa jauh peran masyarakat yang dimaksud dan kelompok masyarakat mana yang melanggengkan kemiskinan itu, tetapi kita tidak sedang membahas masalah itu.

Mungkin ada mazhab yang ketiga, kami menyebutnya kemiskinan teologis. Dari dulu, ada sekelompok orang yang mengajarkan atas nama agama, bahwa orang miskin lebih dicintai oleh Allah Swt. Karena mengikuti ajaran ini, banyak orang yang memilih miskin dan menganggap kemiskinan sebagai pilihan yang terbaik dengan harapan menjadi orang kaya di surga nanti.

Kelompok penindas mendukung teori ini. Dengan segala perangkatnya, mereka melanggengkan struktur sosial dan pemahaman kultural bahwa kemiskinan adalah takdir yang tidak bisa dirubah, bahwa kemiskinan adalah given. Sesungguhnya, kelompok sosial inilah yang menjadi penyebab kemiskinan, bukan masyarakat secara keseluruhan.

Dalam struktur masyarakat modern, kelompok yang paling bertanggung jawab terhadap struktur sosial adalah pemerintah. Walaupun Rasulullah Saw tidak mencontohkannya secara formal, ajaran Islam menegaskan distribusi sumber daya yang adil. Agama Muhammad berpilar kokoh di atas prinsip keadilan, dan keadilan sosial yang didasarkan pada distribusi yang merata itulah yang menjadi inti dari semua ibadah ritual. Allah berfirman, ” Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian rezeki yang telah Kami berikan kepadamu.” Allah dan RasulNya juga menegaskan bahwa sesungguhnya di dalam rezeki yang kita dapatkan, terdapat hak orang-orang miskin. Ketika terjadi ketimpangan sosial yang begitu besar pada zaman kekhalifahan Utsman bin ‘Affan,  salah seorang sahabat dekat Rasulullah yang lain, Abu Dzar, bangkit dan melakukan kontrol sosial yang menjadi penyebab kematiannya. Dia mengajak orang miskin untuk merebut haknya di tangan orang-orang kaya dan penguasa bahkan dengan pedang sekalipun.

Penyebab utama kemiskinan adalah distribusi yang tidak benar. Jika sekiranya pilar sosial agama diwujudkan dalam kehidupan sosial, ketimpangan tidak akan terjadi. Dalam hal ini, adalah tugas pemerintah untuk melakukan pengontrolan atas distribusi itu. Namun tentu saja, semua kelompok masyarakat punya peran masing-masing untuk mendukung dan mengontrol sistem sosial yang dijalankan oleh pemerintah itu.

Sebentar lagi, kita akan mengeluarkan zakat fitrah dan menjemput idul fitri. Keduanya adalah ritual yang mestinya bukan hanya sehari saja, tetapi seluruh waktu dalam hidup kita. Sejauh mana kedua ritual itu memberikan penekanan terhadap topik kita hari ini, akan kita sentuh lagi di pembahasan selanjutnya Insya Allah.

Dulu, Rasulullah Saw diriwayatkan tidak pernah makan kenyang di rumahnya.  Ketika ditanya mengapa, Rasulullah Saw mengatakan “bagaimana mungkin saya bisa kenyang jika saya belum bisa memastikan bahwa semua ahlul suffah sudah makan?” Ahlul suffah adalah orang-orang miskin yang hidup di mesjid Nabawi, yang dijamin oleh “negara”, dan diberi makan oleh “pemerintah.”

23 Ramadhan 1428H

__._,_.___

Mencari Pertautan “Bugis-Makassar: Sultan Hasanuddin – Arung Palakka

October 28, 2007

Halo semuanya…

Bagaimana mi baiknya kita rangkum (atau ada yang mau menuliskannya..***semua jari menunjuk Dandy kah?**) diskusi ini? Saya bukan ahlinya. Tapi selalu ada keinginan bahwa di Panyingkul! hadir juga topik pembelajaran,  yang mengajak orang melampaui perdebatan sempit pahlawan vs pemberontak, yang membuka mata kesadaran kita bahwa “sejarah rakyat biasa” di masa-masa pemberontakan itu bagaimana pula halnya? tentang tukang perahu yang ditempeleng di Danau Tempe sementara para elit berkuasa sudah kawin mawin lagi….. Inilah salah satu hakekat kerja kolektif di sini… menawarkan pembelajaran dengan ramah, tidak gamussu, tidak koro-koroang seperti orang2 yang saling adu di tulisan The J…

Ayolah… (**Semoga tergetar dikau adanya untuk memberi asupan bacaan yang sehat dan mencerdaskan bagi siapa saja yang menyempatkan diri ke Panyingkul! dan insya Allah menjadi ibadah..**)

Selamat berpuasa semuanya. Mohon maaf lahir batin.

Sudirman HN

Thanks Dandi, yang sudah mengantar kita untuk “melampaui” perdebatan dalam bingkai sempit “pahlawan vs penkhianat” itu…

Membaca beberapa kali Warisan Arung Palakka (edisi Indonesia maupun Inggrisnya), tampaknya hampir semua tokoh kunci/elit dari semua pihak dalam peristiwa berdarah-darah itu “brengsek”…Selain Arung Palakka, lihat pula “brengsek”-nya Karaeng Karunrung  yang pada masa sebelum dan masa awal-awal perang adalah pihak paling ekstrim penganjur perang dan anti Arung Palakka juga VOC (sosok ini bahkan kelihatan lebih berkuasa ketimbang Sultan Hasanuddin), namun pada saat-saat terakhir ketika Arung Palakka sudah menjadi tokoh lokal terkuat, ia dengan mesra memeluknya dan meninggalkan Karaeng Bisei Sultan Muhammad Ali (yang adalah putra Sultan Hasanuddin, sosok yang tampaknya tak segarang posternya yang berkumis lebat itu:):)….

La Patau oleh beberapa sumber dituliskan menikah dengan I Mariama Karaeng Pattukangan dari Gowa, ia juga  menikah dengan putri Datu Soppeng dan Datu Luwu, salah satu keturunannya adalah Batari Toja Daeng Talaga yang kemudian menjadi Arumpone sekaligus Datu Soppeng dan Datu Luwu (posisi yang ia peroleh akibat kawin-mawin para elit itu, kayaknya tokoh satu ini adalah tokoh perempuan paling berkuasa dalam sejarah Sulsel….:)…Kayaknya dari jalur La Patau inilah (yang kok beruntung sekali kawin dengan hampir semua putri tokoh kunci kerajaan2 Sulsel:)): jalur genealogis elit-elit Sulsel sejak abad 18….Babak berdarah-darah selanjutnya adalah perang cukup panjang yang melibatkan dua elit, Batari Toja vs La Maddukelleng…..kayaknya kita bisa bikin sinetron perang berdarah2 dan penderitaan rakyat jelata yang amat panjang di Sulsel ini…..

Menariknya sentimen lama ini kayaknya turut dieksploitasi dalam hingar-bingar pilkada Sulsel kini….Lihat misalnya Amin Syam yang kemarin mengumumkan bahwa ia turunan langsung Batari Toja….Lihat juga Syahrul yang ziarah ke makamSultan Hasanuddin dan Arung Palakka beberapa waktu lalu…Ha.ha..ha…sejarah berikut dendam usang ini masih juga merepotkan elit-elit kontemporer yang kini berlaga….

Jadi sosodara, mari bebaskan diri kita dari kerangka sempit pahlawan vs pengkhianat ini berikut dendam karatannya (yang hampir sudah tak memiliki kaitan dengan mimpi-mimpi kita untuk melihat masyarakat biasa di Sulsel yang lebih berkeadilan dan berkesejahteraan)….Tapi tadi saya sempat melongok debat di bawah tulisan Jimpe itu, kelihatannya para pendukung fanatik dan pemelihara dendam dari kedua belah pihak  masih cukup banyak juga jumlahnya…Menghilangkan dendam tak berujung-pangkal ini kayaknya PR besar….

Nurhady Sirimorok

Sebelumnya saya mohon maaf bila catatan saya menyinggung perasaan. Saya hanya mencoba memaparkan fakta yang saya ketahui. 

Saya sepakat dengan tulisan Om Mus di bawah. Memang itulah kerjaannya para elit, mereka mengumumkan perang, mereka mempebudak, mereka menindas, lalu rakyat jelata yang terhinakan, jatuh miskin dan mendendam sampai berpuluh-puluh turunan. Dari buku Andaya juga ditulisan bahwa La Patau, penerus Arung Palakka, dinikahkan dengan beberapa putri raja kerajaan di Sulawesi Selatan (Soppeng, Luwu, Wajo–bahkan Gowa kalau tidak salah, saya masih harus cek). Ini berarti, setelah perang yang berdarah-darah dan meminta korban jiwa, kehormatan dan hilangnya penghidupan karena banyak yang mesti eksodus, para elit sudah kawin mawin. Sementara rakyat di Danau Tempe masih ditempeleng kalau tidak mau membawa orang Bone menyeberang danau, La Patau sudah dikelilingi dayang-dayangnya. Sementara orang Gowa masih memungitu sisa-sisa hasil jarahan pasukan Bone dan sekutunya, La Patau sudah menjalin hubungan dengan keluarga kerajaan.

Jaji, kalau bicara tentang kontekstualisasi pahlawan vs pemberontak. itu adalah debat bentukan pemerintah indonesia, yang relevansinya sedikit sekali untuk rakyat yang masih miskin dan mendendam. Masalah kita adalah rubuhnya tatanan masyarakat yang berterima di masyarakat kita, dan masyarakat yang masih menjaga dendamnya sampai beratus tahun lewat. Itulah masalah terbesar kita. Bukan, sekali lagi bukan, siapa pahlawan siapa pemberontak. Sebab Pahlawan nasional adalah arena unjuk diri ciptaan pemerintah Indonesia dengan kriteria yang kacau balau: berperang (militer), melawan belanda (walaupun sebelum indonesia terbentuk apapun motivnya), dan kalah (kalau menang merawat dendamnya susah).   

Kembali ke Arung Palakka, beliau ini, kalau lihat baik-baik buku Andaya, juga memesan untuk memenggal iparnya berukut ponakannya, karena dianggap bakal menggganggu kekuasaannya. orang ini juga yang memerintahkan memburu seorang bangsawan di daerah barru sampai lelah di hutan sebelum dipotong lidahnya dan dibunuh, karena berbicara melawannya. Orang ini yang memimpin pasukannya menyerang ke nyaris seluruh kerajaan di sulawesi selatan pasca jatuhnya Somba Opu. Semua untuk ‘mempersatukan’ seluruh kerajaan di kawasan ini untuk di bawah pijakan singgasananya. BUKAN UNTUK MEMBELA RAKYAT BONE.

Akibatnya, cerita rakyat di Toraja masih mencatat orang bone sebagai pembawa petaka, (dan menolak masuk Islam karena menurut logika sederhana mereka, orang bone islam, orang bone pembawa petaka, islam pembawa petaka). Itulah watak rakyat. Mereka yang merasakan pahit getirnya perang, mereka yang dijarah, mereka yang dibunuh, mereka yang ditempeleng, sehingga wajar kalau mereka mendendam sampai turun temurun.

Nah. apa usaha kita sekarang untuk menjernihkan kusut sejarah ini? Ini bukan pekerjaan mudah, sebab siapa pun yang pernah sekolah di sekolah Indonesia, pasti diajari bahwa versi sejarah cuma satu. Jadi kalau ada yang membantahnya si pembantah itu juga mengaggap verisnya yang paling benar atau peling unversal tanpa deviasi lokal. kita telah melewati pengajaran sejarah yang sangat buruk, mulai dari sejarah nasion-sentris ala Orde Lama lalu disambung militerisasi sejarah ala Orde Baru. Akibat paling kentara adalah orang-orang selalu ribut tentang ‘pahlwan’, tentang ‘raja’ dan ‘kerjaan’, yang semuanya adalah mainan elit, dan bukan tentang orang biasa, komunitas, dan kehidupan sehari-hari. 

Itulah mengapa rakyat dan elit sekarang membaca sejarah dari kacamata sempit elit. Walaupun mereka membaca Warisan Arung Palakka (saya sangat meragukan mereka mebacanya baik-baik), kalau cara berpikir elitis dan tunggal tdak ditanggalkan hasilnya seperti kita lihat di perdebatan di bawah tulisannya The Jimp.

sekitar itulah dulu catatan koddala saya,

salama’

dandi

 puan dan tuan,

Saya setuju dengan usul dikerja bareng. Ini menguntungkan saya yang sedang mengerjakan research paper, dimana deadline sudah dekat dan saya belum mulai nulis. JAdi saya mohon ampun tidak bisa berpartisipasi penuh, nanum hanya melempar sentilan-sentilan koddala’, dan Bang Sudi telah membuatnya terlihat lebih canggih dan ‘berisi’. ini meyakinkan saya bahwa kalau kita biarkan diskusi ini bergulir lebih lama. maka akan lebih banyak yang bisa dirangkum.

misalnya kisah perang makassar versi sinrilikna kappala tallu[a?]ng batua dari Anto patut kita tunggu. Sependek pengetahuan saya, kisah ini dibuat untuk mendamaikan rakyat Bone dan Gowa, karena mengisahkan bahwa Arung Palakka itu sebenarnya bersaudara dengan Sultan Hasanuddin. Dan kisah ini tentu bertentangan dengan syair panjang gubahan Entji Amin. The J tentu bisa menceritakan versi sekertaris Sultan Hasanuddin ini.

Demikian persepsi orang Bone tentang Arung Palakka yang sempat disinggung Anto juga menarik karena dia merekamnya dari cerita rakyat. Artikel Andaya itu ada dalam buku kumpulan tulisan yang sudah diindonesiakan. Ada di rumah saya, tapi pasti ada di KITLV juga, cuma kulupai judulnya bela.

Ketika bertemu Pak Leonard beberapa tahun lalu, dia bilang, waktu wawancara di tahun 70-an dia banyaka mewawancarai orangtua di atas 70 tahun, yang berarti masih mengingat kejadian perang bone di awal abad 20, yang dikisahkan dalam novelis Friedericy, yang disebutkan Bang sudi dalam tulisannya tentang opium itu.
 

Jadi semakin banyak perspektif, semakin kaya tulisan itu, dan menghindarkan kita mengkonstruksi sejarah yang miopis, alias berpandangan sempit karena hanya berdasar pada satu dua versi cerita.

Yang menarik bagi saya selalu adalah apa dampak ‘sejarah yang dirapihkan’ ini pada cara berpikir orang. dan apa dampak modernisasi terhadap cara berpikir orang terhadap sejarah. 

Nah, ada fakta bahwa ketika pesta rakyat bone, banyak orang mengenakan baju bergambar arung palakka, namun sangat sedikit yang membeli buku Warisan arung Palakka. (Aan bisa cerita lanjut tentang ini? pasti menarik). Ada juga fakta bahwa ketika beberapa anak SMA yang berlatih meneliti bertanya pada seorang penjual es di makassar tentang sejarah menggunakan kata ‘sejarah’: maka yang keluar adalah cerita tentang arung palakka  dan sultan hasanuddin.

Ini menandakan bahwa ‘sejarah’ telah dikuasai raja-raja, dan raja-raja itu hanya dikenali gambarnya saja, dan kisah hidupnya yang berasal dari sumber lisan yang seragam saja, dan bila ada sumber lain orang susah mempercayainya. tidak pernah terjadi perbandingan sumber atau kritik sumber sejarah.

Dan sejarah yang dipelajari di sekolah memperburuk penyakit ini, mereka menambahkan distorsi (telah saya sebutkan di surat sebelumnya) dan kebosanan terhadap sejarah, karena sebagian besar sejarah yang dipelajari adalah sejarah di tingkat nasional atau dunia. sehingga lambat laun orang makin lupa menjaga ingatan tentang diri sendiri.  

implikasinya, tidak heran jika masing-masing daerah membanggakan ‘pahlawannya’ yang merupakan konstruksi sejarah nasionalistik-militeristik yang miskin penelitian, dan mencela ‘pahlawan’ orang lain hanya karena semua orang bertindak sama, tanpa mempertanyakan “mengapa orang mencelanya?”. orang bisa bilang itu sah-sah saja, tapi kita harus bertanya “mengapa orang itu membanggakan pahlawannya saja, dan bahkan mencela pahlawan orang lain, dan mengapa mereka bicara soal pahlawan ketika merujuk tentang masa lalu? apa sejarah hanya berisi penguasa?”

Jadi kita perlu melacak motif dibalik bertahannya dendam berkarat Bone-Gowa itu, yang masih bertahan meski elitnya yang sudah kawin mawin itu sudah tidak lagi berkuasa sejak nasionalisme menang dan pendukung budaya kerajaan sudah sangat menyusut, dan penguasa sekarang bisa menggunakannya untuk menyulut sentimen anti-daerah atau anti-calon penguasa tertentu.

Persoalannya kemudian, pada titik ini lah orang sering terjebak membicarakan ‘pahlawan’ yang biasanya adalah bangsawan atau pemimpin militer atau gabungan keduanya. karena terlalu sering mendapat ‘highlight’, orang akan lupa membicarakan rakyat yang rumahnya dibakar dan dijarah, yang anggota keluarganya diambil menjadi budak hingga dikirim ke afrika. (mengutip Raffles, Marx menuliskan bahwa di Makassar terdapat benteng yang menyimpan banyak budak yang siap dikapalkan). Orang tergoda terus terhisap dalam pertelingkahan dan intrik kekuasaan elit dan melupakan kehidupa sehari-hari di pasar, di masjid, di sawah, di pantai, di rumah penduduk. 

Maka, dengan terus membicarakan para bangsawan ini, dan tidak memberikan porsi berimbang terhadap, atau setidaknya menggunakan kacamata, orang biasa, saya takut kita akan mereprodusi sejarah versi elit yang hingga kini masih berkuasa penuh di buku-buku sejarah anak-anak kita.

agaknya kepanjanganmi dan ngalor ngidulmi ini, 

salama’

dandi      

Mustamin Al Mandary

Sederhanaji sebenarnya masalahnya. Buku yang paling cocok menjadi rujukan, untuk saat ini, adalah bukunya Andaya itu, Warisan Arung Palakka. Disana dijelaskan, setidaknya latar belakang mengapa Arung Palakka bertekad untuk menggunakan semua kesempatan untuk mengangkat kembali derajat orang Bone waktu itu. Ingat siapa yang membuat benteng di sekeliling kerajaan Goa Tallo waktu itu? Benteng itu dikerjakan oleh budak-budak dari Bone, Wajo, Mandar, dan jajahan Goa Tallo lainnya dimana Arung Palakka sewaktu masih kecil pernah ikut juga dalam pekerjaan “paksa” itu. Dalam konteks ini, melihat penderitaan rakyat Bone yang “dihinakan” oleh kerajaan Goa Tallo waktu itu, muncul tekad Arung Palakka untuk membebaskan rakyatnya suatu saat. Untuk itulah Arung Palakka melarikan diri, selain memang karena diburu, ke berbagai tempat sampai ke Batavia. Dan ketika kesempatannya tiba, dengan bantuan Belanda, Arung Palakka tidak mau tahu, dia hanya ingin membebaskan rakyatnya dari “penjajahan”. Kita harus pahami bahwa hubungan antara Goa Tallo dan kerajaan bawahannya waktu itu tidak terlalu jauh beda dengan hubungan Belanda dan kerajaan2 lain. Bukankah motifnya sama?

Kondisi yang sama juga terjadi dalam hubungan Bone dan Wajo di masa Lamaddukelleng. Lamaddukelleng sebenarnya menyimpan “dendam” terhadap penguasa Bone sama dengan dendam Arung Palakka terhadap penguasa Goa Tallo. Lalu muncullah pemberontakan Lamaddukelleng ke kerajaan Bone sepulangnya dari Pasir (pernah jadi Sultan disana). Menurut saya, kita harus memahami relasi kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan waktu itu dalam pengertian ini untuk membuat sebuah analisa.

Jika dibawa ke kondisi sekarang, hubungan bilateral yang menguntungkan antara dua negara tidak harus disebut perselingkuhan. Ketika Arung Palakka merasa bahwa hubungannya dengan Belanda memberikan manfaat, khususnya dalam merebut kembali derajat kebangsaannya, maka dia merasa perlu untuk melakukan hubungan saling menguntungkan itu. Jadilah perang antara Arung Palakka dan raja Goa Tallo. Persoalan raja Goa kemudian dihukum oleh Belanda dan Arung Palakka, itu adalah konsekuensi perang. Waktu itu, kita mungkin harus menegaskan, tidak ada negara seperti yang kita pahami sekarang; yang ada adalah kerajaan Bone dibantu Belanda di satu pihak dan kerajaan Goa Tallo di pihak lain. Mereka berperang atas nama derajat kebangsaan masing-masing.

Lalu apakah Arung Palakka adalah pahlawan atau pemberontak? Kita harus mencari jawabannya dari sudut pandang yang jelas. Jika dilihat dari upayanya untuk membebaskan rakyatnya dari penindasan (yang waktu itu dilakukan oleh raja Goa Tallo), maka dia adalah pahlawan bagi rakyatnya. Namun, Arung Palakka bisa divonis pemberontak jika kita mengatakan bahwa dia telah bekerjasama dengan Belanda melawan Indonesia. Tetapi siapa Indonesia waktu itu? Kalau menurut saya, kita tidak usah memperlebar masalah dengan membawa-membawa Indonesia yang belum ada waktu itu. Arung Palakka jelas adalah pahlawan bagi orang Bone (belum tentu bagi orang Wajo atau Mandar), tetapi dia pasti dianggap penghancur bagi orang Makassar. Tapi Makassar yang mana? tentu Makassar yang dulu.

Tetapi, menyambuti ungkapan teman-teman, Iqbal dan Dg Nuntung, sejarah ini tidak mestinya mengorek luka lama, kedengkian antara orang Bone dan Goa Tallo; mungkin dalam tataran lain kedengkian Wajo terhadap Bone atau Mandar terhadap Bone. Kita harus memperlakukan sejarah sebagaimana adanya dan mengambil hikmah dari peristiwa itu. Secara sosio-politis, tindakan yang dilakukan Arung Palakka dan Sultan Hasanuddin waktu itu masing-masing punya pembenaran dalam pandangan masing-masing. Adapun sejarah yang muncul belakangan pasti tidak lepas dari pemihakan. Kalau membaca sejarah agama, kondisinya jauh lebih buruk dan menyakitkan. Tetapi apakah kita hanya akan mengikuti sejarah yang dibentuk di masa kini itu tanpa kritik? Bagi saya, kritik yang dewasa-lah yang bisa memberikan kearifan.

Mustamin

(Laa syarqiyyah walaa garbiyyah, Tidak di Timur dan Tidak di Barat)

M Hasymi Ibrahim

 Shn, saya setuju dengan anda dan posting dari saya sebelumnya sudah menawarkan agenda kerja.Yang ingin saya komentari ialah apa yang saya sebut sebagai Post-Mattulada.Ada asumsi yang saya pegang setelah membaca Yahya yaitu bahwa setidaknya harus muncul generani penulis-peneliti sejarah, antopology atau apalah namanya, yang tidak lagi meneliti dan menulis ideal-ideal masyarakat Bugis Makassar masa lalu seperti yang dikerjakan oleh generasi Mattulada. Saya membayangkan Bung Yahya bisa menjadi pelopor untuk menampilkan BugisMakassar Yang Sebenarnya (the truly BugisMakassar, untuk meminjam slogan kampanye wisata Malaysia: The Truly Asia). Kalau generasi Mattulada, Andi Zainal sampai Abu Hamid, mereka tidak bisa lain melukiskan BugisMakassar dalam tataran ideal karena mereka memposisikan diri sebagai “pembentuk” Sulawesi Selatan. Sebagai generasi pembentuk, mereka bekerja dan berkarya dalam atmosfir rentan keretakan Bugis dan Makassar karena pasca pemberontakan Kahar Muzakkar Sulsel seakan baru saja lahir dan diciptakan kembali. Pada aras politik, kompromi paling mungkin pada jaman Orde Baru, pasca pemilu 1971, misalnya ialah menempatkan seorang Gubernur yang bukan Makassar dan bukan Bugis sehingga muncullah Lamo yang Enrekang. Saya kita, Yahya, Dandy, Andi Akhmar dan banyak lagi kawan-kawan paling tidak harus kita dorong untuk menggunakan sudut pandang TheTruly Bugis Makassar tersebut, apalagi Yahya sudah memulai dengan Pujiale itu.

Basri Amin

 Dear teman2 “Panyingkul”,Arung Palakka, Sejarah dan Kita
——————————-
Usulan utk merekam “perbincangan” ttg Arung Palakka
dan sejarah adalah sangat baik adanya. Tapi, rekaman
ini juga akan sekaligus berhubungan dengan keadaan
“kita”, yakni semua individu yg aktif, jujur, terbuka
dan yg sungguh2 membahasnya. Sejarah menjadi (selalu)
penting krn kita tampaknya tak bisa menghindarkan diri
darinya dgn mudah. Bahkan, banyak pihak berpendapat
bahwa apa yg terjadi “saat ini” dan yg akan terjadi
“nanti” tdk akan pernah bisa berjalan melampaui
“pantulan sejarah” yg melahirkan masyarakat itu.
Tapi, jangan sampai gambaran ttg masa lalu, tentang
kebesaran sejarah yg pernah dicapai, ttg kritik
kepahlawanan, ttg konflik, ttg kritik identitas, dst
yg memadai tdk berhasil kita capai, sementara gambaran
tentang keadaan “kita” lebih besar dan
dominan…egoisme utk mematok batas-batas kebenaran
tunggal tampaknya hrs kita tolak. Karena itu tdk salah
kalau kita sebisa mungkin tdk terlalu “normatif”
(dalam budaya) dan tdk terlalu mudah berpikir
dikotomis-linier (dalam sejarah).
Bebaskanlah diri kita, agr sejarah yg kita pelajari
bisa pula membebaskan kita.

Karena itu, perkenankan saya bertanya: mungkinkah
topik ini kita bahas bersama dgn pikiran dan jiwa
“orang biasa”? Mohon redaksi Panyingkul memberi
sedikit keterangan ttg sejauh mana “perspektif orang
biasa” ini bisa kita andalkan utk topik yg cukup
penting dan mudah meng”hangat”kan pikiran dan
me”nyulut” perasaan (subjektif) ini?
————–
Saya kira, tentang topik ini, masih terhampar jarak yg
luas antara setiap bacaan dan akurasi data yg
dimuatnya –tentu termasuk tafsiran dan kesimpulan
akhirnya– dgn kemampuan kita dlm memahaminya. Entah
utk kemudian bisa sepakat atau tidak. Antara “teks”
dan “konteks”, dalam sejarah, cukup mudah tumpang
tindih kalau dicoba dipahami dgn perasaan setiap KITA
masa kini (yg sangat mungkin punya ikatan-ikatan) yg
kental atau pun longgar dlm soal ruang peristiwa,
geneologi, ideologi dan memori (kolektif?). Dengan
demikian, peristiwa2 masa lalu kita letakkan dalam
ruang2 psiko-historis kita yg bisa amat lengket dgn
benturan2 interest, pola2 sosial (elitisme?) dan
bahkan tragedi-tragedi masa kini (lokalisme?).

Tulisan sejarah tidak akan pernah lengkap dan mewakili
semua pikiran dan kemauan kita..sejarah yg benar (saya
kira) adalah yg selalu ditulis terus menerus..tentu,
dgn ketundukan yg jujur dan memadai kpd
sumber-sumbernya (yg tertulis!!) Kita harus rela
menerima setiap unsur “subjektif” dlm mengutarakan
tafsiran. Demikian juga dgn “versi” lainnya.

Itulah sebabnya, kalau berkenan, utk kepentingan
generasi Sulsel yg lebih baru, yg lebih tercerahkan,
KITA mestinya menghadapi setiap peristiwa yg pernah
ada di masa lalu dgn kesadaran, bahwa ada banyak hal
yg pantas kita “warisi”, tapi KITA pun perlu tegas
menancapkan batas-batas kesadaran baru utk “tugas”
sejarah yg penting dan pantas utk dikerjakan. Sejarah
adalah pelajaran, meski banyak masyarakat gagal
belajar dr sejarahnya…”
————–
Almarhum J. Noorduyn (1926-1994), ahli Sulawesi yg
terkenal itu, senang mengutip ungkapan di bawah ini:

“…There can be no writing of history without a
history of writing” (Chao, 1961: 69)
——————
Dengan semangat ini, tangan saya ikut terbuka utk ikut
bahu-membahu mendiskusikan sejarah dan masa depan kita
di Selatan Sulawesi, di Timur Nusantara.

Salam hangat, jabat erat, maaf utk hal2 yg tdk
berkenan

Basri


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.